Determinasi Kapitalisme dan Identitas Fans Sepakbola yang Bias

Dari rangkuman tulisan di atasterlihat fenomena jersey yang memakmurkan sepakbola tidak terlepas “tangan gaib” bernama kapitalisme, kita bagaimana sebuah klub sepakbola berusaha mematenkan nama klub nya menjadi sebuah brand universal, dengan “menjual identitas” yang klub itu punya yang salah satunya adalah Jersey. Jersey menjadi sebuah identitas yang amat laku di jual karena posisi jersey sendiri sangat cukup untuk membuktikkan ke khalayak umum jika kita adalah fans dari klub itu sendiri.

jersey-bola

Paham kapitalisme yang dianut oleh klub sepakbola memang tidak mungkin bisa dilepaskan, karena seperti yang kita tahu jika di era sepakbola industry kini klub sepakbola memasuki sebuah era kepemilikkan “ Go Public” yang artinya fans bisa di bilang adalah lebih dari ½ nyawa yang di punyai suatu klub sepakbola, karena selain berfungsi sebagai pendukung, fans juga menjadi “controller” ( dalam hal ini adalah pemilik saham) yang artinya para fans ini tidak lagi hanya pendukung suatu klub sepakbola namun juga sebagai pengawas dari kebijakan dan aktifitas klub sepakbola. Seiring dengan fungsi yang “menyatu” dengan klub kesayangannya maka bisa di tebak jika “rasa memiliki” fans terhadap klub kesayangannya semakin bertambah. Dan tentu saja rasa kepemilikkkan yang besar dari para fans inilah yang di jadikan celah oleh klub untuk terus melebarkan basis pendukungnya ke tempat-tempat lain di belahan dunia.

Namun begitu hal ini juga menjadi sebuah di lema tersendiri hal ini karena tidak ada lagi batas identitas yang jelas antara fans sejati dengan pecinta “jersey fashion” , karena dengan desaign, harga dan mudahnya mendapatkanjersey klub idola . namun begitu bagi penulis sendiri kedua hal ini tak perlu di perdebatkan karena sejatinya penulis sendiri juga belum mendapatkan arti sesungguhnya dari identitas fans sejati , jadi jikapun ada fenomena “fashion jersey” penulis rasa semua itu tak masalah toh bagi penulis sendiri sepakbola memang olahraga yang penuh dengan “magic, dan sihir” , sehingga memang tidak perlu membuat sekat antara fans sejati dan “fashion jersey” sebagai pembeda, hal ini seperti sepakbola yang telahir sebagai olahraga untuk semua sehingga tak perlu rasanya membuat sekat untuk sepakbola agar di cintai .

 

Tulisan Ini telah di diskusikan dalam forum DKS (Diskusi Kamis Sore) yang di adakan tiap kamis sore pukul 16:00 di Fakultas Ilmu Sosial -Universitas Negeri Jakarta

 

Love Football No Vandal

Leave a Reply